Melihat judul diatas, sepertinya tidak ada hal yang menarik atau istimewa, “gigih” bahkan buku bacaan SD sudah menuliskan kata gigih, Sukses, sama saja.
Bukan Maksud saya untuk mencibir, namun hati ini serasa miris melihat hampir semua toko buku besar di mal mal terbesar di setiap kota di indonesia ini di penuhi oleh buku buku serial motifasi dan hampir 80% penulisnya adalah orang luar, dan saat ini sungguh banyak buku buku yang mengklaim sebagai best seller dan mengatakan, bahwa rahasia sukses adalah; berpikir positip dan berpikir positip,( 100% benar adanya dan sampai akhir bumi ini akan selalu absolut benar) hanya beda sampul dan lisenced, namun isinya boleh di katakan sama, isinya lebih mengarah kepada pengembangan personalisasi serta pengembangan diri, era 90-an perubahan hukum ketenagakerjaan di indonesia sudah banyak yang tidak berpihak kepada buruh, dan nyatanya membuat para buruh harus berpikir 2 kali untuk pengembangan karir apakah tetap di perusahaan atau mau berbisnis sendiri (yang hampir semuanya di ajarkan oleh buku buku serial motifasi) suatu ketika, saya berdebat dengan si panatik tulisan si best seller ini, dengan bangganya dia menyatakan, kalau ingin kaya, berhentilah jadi karyawan, dan ditambahi dengan seribu alasan, yang menurut saya lebih kepada ‘meaninglesss”. namun saya menjelaskan, tanpa membaca buku itupun, saya sudah mengerti, alasan saya, isi dari buku itu 90% lebih kepada : how we motifated ourself. wong sejak kecil saya sudah dimotifasi supaya berhasil, alam dan lingkungan kecil saya sudah menakdirkan saya untuk berjuang mati matian untuk merubah kehidupan masa depan saya. tangisan kecil saya waktu kecil pun akan terdiam sendiri tanpa ada yang membelai belai.
Boleh dipastikan, beberapa tulisan tulisan atau karya orang barat, sangat tidak apllicable untuk alam indonesia, semisal, bagaimana mengelola keuangan, tanpa saya jelaskan pun orang awam sudah tahu, bahwa institusi atau lembaga pengelola keuangan di dunia barat jah lebih bagus dari indonesia, jadi tidak apllicable, lebih banyak disebabakan system pendukungnya belum “ON” di indonesia.
saya membaca tulisan dari blognya seseorang, mengatakan, si upik, penjual gorengan itu sudah memiliki karyawan 50 orang dan mempunyai 4 cabang di jakarta. namun saya tidak menemukan di tulisan itu bahwa si upik telah mengelola keuangannya dengan menabung di bank A, dan berspekulan invenst untuk asuransi B, akhirnya mengagunkan gerobak C ke bank D. tetapi yang dia tekankan adalah kegigihan si Upik , ketika memulai business itu, dengan modal seadanya, tanpa pamrih dan akhirnya berhasil memiliki aset dan sumber incom yang setara dengan gaji eselon -3.
Kegigihan ibarat memasukkan benang kedalam jarum, perlu semangat dan strategy, dan harus bersinergy dengan kekuatan kekuatan lain, benang dipegang tangan kanan, dan jarum dipegang tangan kiri, di kerjakan tanpa terburu buru, pelan tapi pasti, akhirnya yang dinginkan pasti dapat, kegigihan merupakan keinginan kuat, yang terbenam dalam kalbu, yang diapplikasikan dalam tindakan nyata, sehingga hasrat dan keinginan itu tercapai.
Kegigihan untuk maju merupakan dambaan banyak orang, kegigihan untuk kaya, juga impian semua orang, kegigihan selalu bertautan dengan kesuksesan, serta keberhasilan, gigih, akibatnya sukses, semua orang gigih pasti sukses, namun tidak semua orang sukses orang gigih.
Mari kita kurangi ketergantungan dengan bacaan “bes sellernya ala” Barat, seolah Indonesia ini merupakan negara yang sulit di motifasi, bergiatlah dalam gigih, maka motifasi dan sukses itu akan mengikuti hidup kita.
Alkitab merupakan buku terbaik untuk motifasi , namun apakah masuk dalam best seller?
Mari kita renungkan.
Medio June 2008
Nimrod Sitohang









Kalau bgitu, buat saja buku Self Development versi Pak Naomi yang lebih punya taste….:D
*Great articles…keep it up
hehehe…Ok !!will see it later, but the point which i want to share is, we have to return back to the holy bibel, which almost containt of wholly inspired though.
mauliate…
saya rasa wajar kita belajar dengan orang barat sebagai aspirasi kita,karena mereka lah kita jadi kenal dengan ilmu pengetahuan termasuk dengan dunia internet ini kita tak perlu untuk allergi,tapi mengenai adat istiadat kita harus kita pertahankan.
hal hal yang positip marilah kita contoh tapi yang jelek dari barat jangan,saya melihat belakangan ini justru hal yang negatif dari barat cepat kita contoh .